Fadli Zon: Pemerintah Gagal Menjaga Martabat Rupiah

Nasional | Kamis, 10 Mei 2018 - 12:02 WIB

Fadli Zon: Pemerintah Gagal Menjaga Martabat Rupiah
Wakil Ketua DPR, Fadli Zon. (INTERNET)

JAKARTA (RIAUPOS.CO)- Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai, pemerintah gagal menjaga nilai tukar rupiah hingga menembus angka Rp14.000 per Dolar Amerika Serikat (AS). Menurut Fadli, meskipun selalu disangkal eksekutif, Indonesia saat ini sebenarnya sudah berada di tahap awal krisis, dan pemerintah telah gagal dalam menjaga stabilitas rupiah.

Nilai tukar memiliki efek domino yang sangat besar dalam struktur perekonomian. Dalam periode Februari hingga Maret 2018 saja, Indonesia sudah menghabiskan sekitar 2 miliar dolar AS devisa untuk menyelamatkan rupiah. “Itu juga ternyata tak sanggup mencegah rupiah jatuh ke angka Rp14.000 per dolar,” kata Fadli, Rabu (9/5).

Baca Juga :Industri Hitung Ulang Biaya Produksi

Fadli mencatat, selama periode pemerintahan Presiden Joko Widodo mulai dari kuartal empat 2014 hingga kini, rupiah sudah terdepresiasi 13 persen. Kemungkinan akan terus mengalami tren penurunan. Kondisi ini jauh sekali dari apa yang dulu pernah dijanjikan pada 2014.

Sebagai catatan, nilai tukar rupiah saat ini 38 persen lebih rendah dari janji kampanye dulu. Ini menunjukkan perhitungan pemerintahan sekarang jauh dari realistis. “Dan pemerintah gagal menjaga rupiah kita,” tegas anak buah Prabowo Subianto di Partai Gerindra, itu.

Karena itu, Fadli menyatakan bahwa pemerintah harus bersikap transparan mengenai risiko yang tengah dihadapi. Sikap itu diperlukan agar bisa mengambil langkah tepat mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi yang lebih dalam.

Menurutnya, jangan berdalih indikator makro ekonomi cukup baik dengan modal argumen bahwa indikator perekonomian negara-negara lain saat ini jauh lebih buruk dari Indonesia.

Menurut dia, ini bukan soal apakah kondisi Indonesia lebih baik atau buruk dibanding negara lain. Namun, soal apakah pemerintah telah mengantisipasi terjadinya krisis atau tidak. “Jika kondisi negara lain lebih buruk, bukan berarti kita baik-baik saja,” ungkapnya.

Risiko di depan mata yang dihadapi misalnya terkait dengan utang. Sebab, sekitar 41 persen utang ada dalam denominasi mata uang asing. Artinya, jelas dia, perubahan kurs rupiah atas mata uang bersangkutan akan mempengaruhi posisi utang secara keseluruhan.









Tuliskan Komentar anda dari account Facebook