INTERNASIONAL

Curi Data, Korut Dituding Retas Telepon Pejabat Korsel

Internasional | Rabu, 09 Maret 2016 - 17:19 WIB

Curi Data, Korut Dituding Retas Telepon Pejabat Korsel

SEOUL (RIAUPOS.CO) - Badan Intelijen Nasional (NIS) Korsel, Selasa (8/3/2016) kemarin, menyatakan Korea Utara telah meretas telepon pintar para pejabat Korea Selatan. Korut dituduh meretas nomor-nomor telepon milik puluhan pejabat serta mencuri data-data percakapan dan pesan-pesan di dalamnya.

NIS melaporkan, peretasan tersebut dilakukan akhir Februari hingga awal Maret. Pyongyang juga mengirimkan e-mail palsu kepada pegawai di dua operator jalur kereta api provinsi yang tujuannya untuk mencuri password sehingga Korut bisa melakukan serangan cyber pada sistem kontrol lalu lintas kereta api. Negara yang dipimpin Kim Jong-un itu tampaknya juga berencana menyerang jaringan perbankan Korsel secara besar-besaran.

Baca Juga :Sleep, Film Terakhir Persembahan Perfilman Korea

"Jika hal ini tidak terdeteksi, hasilnya adalah kekisruhan masal di bidang finansial. Misalnya, kelumpuhan sistem internet banking dan kesalahan transfer," kata pihak NIS.

Namun, ini bukan kali pertama Korut dituding telah melakukan peretasan. Sebelumnya, Korsel pernah menuding Pyongyang telah meretas berbagai institusi militer, bank, lembaga pemerintahan, stasiun televisi, website milik berbagai media, serta pembangkit tenaga nuklir milik Seoul.

Selain peretasan, Korsel kemarin (8/3/2016) mengungkap tambahan sanksi baru terhadap Korut. Ada tambahan 40 individu dan 30 perusahaan yang masuk daftar hitam Negeri Ginseng tersebut. Mereka yang masuk daftar itu adalah orang maupun lembaga yang ditengarai terlibat dalam program senjata nuklir milik Korut. Aset-aset mereka di Korsel akan dibekukan.

Seoul juga bakal melarang kapal-kapal yang telah singgah di Korut masuk ke pelabuhan mereka. Kapal yang dilarang ialah yang pernah ke pelabuhan Korut dalam kurun waktu 180 hari belakangan ini.

Korsel juga menyerukan kepada penduduknya agar melakukan boikot terhadap restoran-restoran milik Korut di luar negeri. Pemerintah Korsel memperkirakan bahwa Korut menghasilkan USD 10 juta (Rp 131,5 miliar) per tahun dari 130 restoran yang mereka miliki di 12 negara.

’’Fasilitas Korut di luar negeri seperti restoran adalah salah satu sumber untuk mendapatkan mata uang asing. Karena itulah, kami meminta masyarakat agar berhenti menggunakan fasilitas tersebut,’’ tegas Kepala Kantor Koordinasi Kebijakan Pemerintah Korsel Lee Suk-joon. Mata uang asing itulah yang dipakai Korut untuk mendanai senjata pemusnah masal mereka. (sha/c20/dos/adk)

Sumber: JPNN

Editor: Hary B Koriun









Tuliskan Komentar anda dari account Facebook