OLEH: DAHLAN ISKAN

Tanpa Jumbo

Nasional | Kamis, 30 Juni 2022 - 10:19 WIB

Tanpa Jumbo
Dahlan Iskan (RIAU POS)

MENGAPA Hongkong disebut surga makanan? Banyak ahli berdebat soal mengapa. Kesimpulannya: koki terbaik berkumpul di Hongkong. Mereka mencari penghasilan yang lebih baik.

Ahli bubur pindah ke Hongkong. Ahli seafood apalagi. Ahli sayur pun mengikuti. Tentu juga ahli masakan babi.

Baca Juga : Bambu Ijuk

Mungkin Anda punya teori sendiri. Apalagi Anda sudah tahu: Tiongkok itu miskin sekali. Setidaknya sebelum tahun 2000. Selama 80 tahun sebelum itu.

Di masa itu, yang kaya pindah dari Tiongkok. Untuk mengamankan kekayaan. Yang miskin juga pindah. Untuk keluar dari kemiskinan. Yang pintar pun ikut pindah –untuk bisa menerapkan kepintarannya.

Di negara miskin, sepintar-pintar juru masak akan kalah. Pilihan-pilihan bahan makanannya kalah bermutu. Mau cari yang bermutu jatuhnya akan mahal. Daya belinya tidak ada.

Yang punya daya beli adalah Hongkong. Pun Singapura masih sangat miskin kala itu. Hongkong telah menjadi Eropa di Timur. Di bawah pemerintahan Inggris. Hongkong telah menjadi pusat perdagangan Asia. Pelabuhannya yang terbaik saat itu: dalam, tidak ada pendangkalan dan tanpa ombak, terlindung oleh pulau. Sistem hukumnya juga menjamin kepastian usaha.

Begitulah hukum alamnya. Keahlian mengalir ke mana-mana mengikuti uang.

Itulah yang dikhawatirkan sekarang.

Besok, 1 Juli 2022, Hongkong genap 25 tahun kembali ke pangkuan ibu pertiwi –Tiongkok. Besok pemimpin baru Hongkong juga dilantik: John Lee. Mantan komandan polisi Hong Kong itu memang menjanjikan zaman baru. Saat kampanye Pemilu dulu. Tapi belum konkret rinciannya.

Keunggulan utama Hongkong, selama ini, adalah: pusat keuangan Asia. Ia juga gabungan ideal antara ‘’sangat Asia’’ dan ‘’sangat global’’: A Local World City.

Orang bisa mendirikan perusahaan di Hongkong dalam waktu 30 menit. Tanpa harus punya kantor di sana. Budaya wiraswastanya sudah mendarah-mendaging. Juga budaya keuangannya.

Itulah yang dikhawatirkan akan berubah.

Tanda-tanda perubahan itu tidak ada. Sampai tiga tahun lalu. Tiongkok sudah menetapkan konstitusi ‘’satu negara dua sistem’’. Hongkong dijamin oleh konstitusi untuk punya sistem sendiri –meneruskan sistem lama.

Lalu meledaklah gerakan pro-demokrasi di Hongkong. Tiga tahun lalu. Awalnya hanya untuk menentang RUU baru –pelaku kriminalitas boleh diekstradisi. Kian hari demo itu kian berkembang ke arah politik: minta Hongkong merdeka. Tidak terang-terangan begitu, tapi sinyalnya ke sana.

Tiada hari tanpa demo. Selama hampir dua tahun. Kian besar. Kian brutal. Tiongkok risau.

Maka lahirlah RUU Keamanan Nasional Hongkong. Agar polisi bisa menindak para demonstran –yang menurut sistem lama tidak boleh ditindak.

Dengan UU itu, tokoh-tokoh pro-demokrasi ditangkap. Banyak di antara mereka mahasiswa. Ada juga pemilik media: Jimmy Lai. Ia bos Apple Daily yang pro-demokrasi. Koran itu sampai tutup.

Kemarin-kemarin soal keresahan masa depan Hongkong ini belum banyak dibicarakan. Semua masih sibuk dengan Covid-19. Pemberangusan gerakan pro-demokrasi masih bisa diselubungi oleh alasan ‘demi mengatasi pandemi’.

Tahun ini, setelah pandemi mulai bisa diatasi, pembicaraan masa depan Hongkong akan kembali ramai. Faktornya tidak hanya perubahan di sistem keamanan. Secara eksternal zaman juga sudah berubah. Ada faktor Korea dan Singapura. Yang dulu bukan siapa-siapa.

Yang lebih nyata justru faktor Tiongkok sendiri. Yang kini jauh lebih kaya dari Hongkong. Soal keunggulan bursa saham Hongkong misalnya, sudah menurun. Sudah tergerogoti oleh kebesaran bursa saham Shanghai. Bahkan oleh bursa di tetangga sebelah dindingnya: Shenzhen.

Soal surga makanan juga mulai dipertanyakan. Tarif di Shanghai dan Beijing kini sudah lebih mahal dari restoran di Hongkong. Artinya: koki terbaik tidak harus lari ke Hongkong. Bahkan yang dulu ‘’merantau’’ ke Hongkong sudah balik lagi ke daratan.

Status surga makanan di Hongkong memang masih belum hilang. Tapi sudah banyak surga-surga lain di sekitarnya. Status pusat keuangan Asia juga mulai dipertanyakan. Kalau gelar ini sampai hilang, apalagi yang bisa diunggulkan.

Presiden Xi Jinping akan ke Hongkong besok. Tapi ia tidak akan bermalam di situ. Begitu selesai pelantikan John Lee –dan peringatan 25 tahun kembalinya Hongkong ke Ibu Pertiwi – Xi Jinping bergeser. Dari Hongkong ke Provinsi Guangdong, di sebelahnya.

Siapa tahu masa depan segi-lima Hongkong-Shenzhen-Guangzhou-Zuhai-Macao dibicarakan di situ.

Persiapannya sudah begitu lama. Jembatan di atas laut terpanjang di dunia dibangun di segilima ekonomi itu. Bahkan sudah empat tahun selesai: jembatan Hongkong-Makau-Zuhai. Saya sudah beberapa kali melewatinya –menjelang Covid. Tapi belum terasa jembatan baru ini menjadi faktor mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Baru bus-bus turis yang diizinkan lewat. Seolah investornya tidak kesusu balik modal.

Banyak yang berharap momentum peringatan 25 tahun Hongkong ini dikaitkan dengan konsep kebangkitan ekonomi segi-lima. Tentu dengan Hongkong sebagai kepala naganya.

Salah satu indikator perubahan yang ditunggu adalah juga ini: apakah kebebasan internet di Hongkong tetap dipertahankan. Atau internet Hongkong akan dikontrol seperti di daratan. “Kalau internet di Hongkong juga disensor habislah keistimewaan Hongkong,” ujar pengamat politik di sana, seperti ditulis media di Hongkong.

Belum tentu juga.

Budaya bisnis di Hongkong sulit diubah. Saya bisa membedakan ‘’gaya bisnis Hongkong’’ dengan ‘’gaya bisnis Singapura’’. Gaya bisnis Hong Kong lebih mendorong kecepatan usaha.

Misalnya begini: dua orang bos bertemu. Mereka ingin bekerja sama. Jual beli saham. Jual beli perusahaan. Atau joint venture. Atau transaksi apa saja.

Setelah bicara-bicara angka, mereka sepakat. Salaman. Atau minum baijiu. Atau bir.

Setelah itu tugas staf masing-masing untuk mewujudkan kesepakatan bos mereka. Untuk mengatur detailnya. Mengatur administrasinya. Mengatur dokumen hukumnya.

Tidak ada staf yang kemudian menghadap bosnya untuk mengatakan: tidak bisa dijalankan. Staf di sana tidak akan bilang “transaksi sulit dilaksanakan’’. Misalnya karena banyak masalah hukum dan administrasi. Sang bos akan marah. “Kalian digaji untuk menyelesaikan semua itu”.

Di Hongkong tugas staf adalah membereskan semua kesulitan yang timbul akibat kesepakatan. Kalau ada dokumen hukum yang tidak mendukung, harus diusahakan bagaimana agar dokumen itu ada. Kalau ada hitungan yang tidak cocok, bagaimana supaya cocok.

Maka jarang ada kesempatan bisnis di Hongkong yang tidak jalan.

Di Singapura proses itu kebalikannya. Staf mempelajari dulu seluruh detailnya. Barulah bos bertemu. Untuk membuat keputusan.

Praktik bisnis yang seperti itu akan terus menjadi keunggulan tak terlihat di Hongkong. Dan itulah keunggulan utamanya. Yang sulit digeser negara manapun.

Tentu kini Hongkong sudah kehilangan salah satu keunggulan kecilnya. Hilang permanen. Tidak akan bisa kembali lagi. Yakni resto terapungnya itu. Yang Anda pasti pernah mencobanya: Restoran JUMBO. Ratu Elizabeth pun pernah makan di situ. Pun banyak bintang film.

Restoran JUMBO terbuat dari kapal. Terapung. Pintu gerbangnya dibuat seperti gerbang kerajaan Tiongkok masa lalu. Dapurnya terpisah. Juga kapal. Lebih kecil. Menempel di JUMBO.

Dapur itu tenggelam dua bulan lalu. Tidak ada masalah. Toh JUMBO lagi tutup. Sudah dua tahun tutup. Akibat pandemi.

Ikon Hongkong itu rugi besar. Pemerintah Hongkong tidak tertarik untuk menyelamatkannya. Padahal itu sudah menjadi legenda di Hongkong. JUMBO dibuat tahun 1976. Oleh Stanley Ho, bos bisnis perjudian di Makau. Sudah berumur 45 tahun lebih.

Tiba-tiba saja, pekan lalu, restoran itu ditarik ke tengah laut. Justru ketika Covid sudah reda. ‘Istana’ itu terus ditarik menjauhi pantai. Banyak orang memotret kepergiannya. Kian jauh. Kian ke laut selatan.

Tiga hari kemudian muncul berita singkat: JUMBO tenggelam di Laut Cina Selatan. Di dekat kepulauan Spratly. Posisinya sudah di selatan Hanoi. Sudah di selatan Manila. Berarti tidak dipindah ke Vietnam. Atau Filipina.

Akan dibawa ke mana restoran JUMBO?
Tidak ada yang tahu. Perusahaan merahasiakannya kuat-kuat. Dugaan saya: akan dibawa ke Batam. Masuk dok di Batam. Atau dibawa ke Singapura. Dijual sebagai besi tua. Tempulu harga besi tua lagi tinggi. Apalagi kalau kapalnya buatan Jepang.

Saya ikut sedih JUMBO telah pergi. Tapi ya sudahlah. Yang pergi harus pergi. Yang datang harus dinanti.***

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.









Tuliskan Komentar anda dari account Facebook