Pemilu Dongkrak Belanja Iklan

Ekonomi-Bisnis | Rabu, 01 Mei 2019 - 12:04 WIB

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Penyelenggaraan pesta demokrasi berdampak pada tren belanja iklan di sejumlah media. Perusahaan riset dan analisis data Nielsen melalui Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel) memonitor belanja iklan kuartal pertama 2019 relatif stabil di angka 4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Executive Director Media Business Nielsen Indonesia Hellen Katherina menjelaskan, pada kuartal awal di tahun pemilu, porsi terbesar datang dari kategori pemerintahan dan organisasi politik. Total belanja iklannya mencapai Rp 2 triliun atau meningkat 11 persen. Disusul kategori layanan online dengan total belanja iklan Rp 1,9 triliun.

Baca Juga :Sampaikan Pesan Pemilu Damai ke Nelayan yang Sedang Melaut

”Iklan dari kategori government biasanya memang selalu 10 besar, tapi tidak menjadi yang paling atas. Di tahun politik ini mereka menjadi yang terbesar,” ujar Hellen dalam acara Nielsen Media Conference di Jakarta kemarin (30/4).

Sepanjang periode kampanye 24 Maret-13 April 2019, dari keseluruhan belanja iklan, kategori pemerintahan dan organisasi politik menyumbang porsi cukup besar. Yaitu, 12 persen dengan total belanja iklan Rp 1,1 triliun. ”Jumlah ini meningkat cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode kampanye pemilu 2018 dengan total belanja iklan Rp429 miliar,” beber Hellen.

Nielsen memaparkan, dari total belanja iklan pemerintahan dan organisasi politik pada periode kampanye, kontributor iklan terbesar adalah para kandidat calon presiden dan wakil presiden. Nilai total belanja iklannya Rp206,6 miliar. Disusul Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan belanja iklan Rp 93,2 miliar. ”Pengiklan ketiga terbesar berikutnya adalah para calon anggota legislatif yang mencapai total belanja iklan sebesar Rp 92 miliar,” urai Hellen. Musim politik turut mengerek spending iklan kategori lain selain pemerintah. Hellen memaparkan, pengiklan terbesar ketiga datang dari kategori produk perawatan rambut dengan total belanja iklan mencapai Rp 1,8 triliun.

Kemudian, kategori rokok kretek menghabiskan belanja iklan sebesar Rp 1,7 triliun dengan pertumbuhan 29 persen. Di urutan kelima, lanjut Hellen, kategori produk makanan instan tumbuh 37 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya dengan total belanja iklan Rp1,5 triliun. Hellen mengungkapkan, dinamika politik memang membuat beberapa brand wait and see dan mengurangi belanja iklan. ”Itu sudah menjadi pola lima tahunan. Ada beberapa brand yang cenderung wait and see,” katanya.

Namun, dari paparan Nielsen, spending iklan oleh beberapa brand masih relatif positif. Dari top 10 iklan, yang terlihat mengurangi hanya dua sektor yakni, hair care dan online services. Penurunannya juga hanya single-digit. Sementara itu, sektor yang lain yang naik dengan pertumbuhan rata-rata double-digit.(agf/fal/jpg)

Editor: Eko Faizin









Tuliskan Komentar anda dari account Facebook